Press "Enter" to skip to content

HARLAH PMII ke-61: Refleksi Titik Patah PMII

Jaelani, M.Si

(Ketua PB PMII 2011-2013) 

Perjalanan Organisasi yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam melintasi medan sejarah, telah melahirkan banyak dedikasi yang ditorehkan dalam menata perubahan. Sejak 1960 sampai hari ini—produksi gagasan dan akselerasi gerakan terus ditunjukan sebagai wujud eksistensi organisasi. Dimasa lalu distribusi kader diruang gerakan, ditandai dengan munculnya kader-kader PMII pada elemen-elemen ekstra-parlementer yang melakukan delegitimasi jalanan, sekaligus menegaskan simbol perlawanan terhadap  laku kekuasaan yang “zalim” terhadap rakyatnya—tercatat momentum tumbangnya rezim orde lama tahun 1966 dan gerakan reformasi 1998. 

Pada level gagasan, PMII juga sejak dulu senantiasa memproduksi gagasannya, misalnya pluralisme, demokratisasi dengan menguatkan gerakan civil society, kampanye perdamaian dunia, menegaskan laut (maritim) sebagai ruang pertarungan Indonesia, serta gagasan lain yang lebih bersentuhan dengan dialektika internal. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah; apakah gagasan dan gerakan PMII yang pernah ditorehkan hanya berakhir menjadi “kertas kusut” yang tak punya makna? ataukah penanda transformasi sosial yang telah dilakoni PMII hanya berakhir menjadi “heroisme semu”. 

Kini PMII telah mampu melakukan akselerasi di berbagai ruang, baik itu profesional, ruang sosial, ekonomi maupun politik kekuasaan. 

Sebagai organisasi yang telah bergumul ditengah fase-demi fase perubahan bangsa dengan segala turunannya, maka menjadi penting rasanya untuk merefleksikan kembali makna Tujuan PMII sebagai aras pandu organisasi. Nalar kita hari ini harus tegas, yaitu ; Membangun kesefahaman gerakan dengan TUJUAN PMII. Narasi ini kedengarannya sederhana, tetapi jika diselami lebih dalam- “Titik Patah” PMII terletak pada Tujuan organisasi. Pada Pasal 4 Anggaran Dasar yaitu: Terbentuknya pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Tujuan menjadi titik patah PMII lebih dikarenakan oleh kekeringan kesadaran–untuk mengaksentuasi nilai-nilai dari tujuan tersebut sebagai pemandu utama menata sistem gerak organisasi. Oleh sebab itu, penting rasanya di momentum Harlah PMII ke-61, kita mengurai beberapa analisis yang bersentuhan memudarnya pemahaman akan tujuan PMII;

Pertama; Problem Internal.

Secara Internal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memiliki potensi yang begitu besar, ini ditandai dengan beberapa hal, 1) Infrastruktur organisasi yang terdiri dari, Seperangkat aturan atau konstitusi yang menjadi landasan pijak organisasi dalam menjalankan aktifitas keorganisasian—Selanjutnya Infrastruktur yang mencakup Alumni, Pengurus dan kader yang tersebar di ±230 Cabang se-Indonesia –dengan Sejarah lokalnya sendiri, relasi sosial yang beragam ditambah kecenderungan lokalitas yang berbeda.

2) Gagasan Organisasi, dimana sangat jelas secara tekstual konsep-konsep yang telah lama mengisi ruang dialektika sahabat-sahabat PMII. Ahluh Sunnah Waljamaah (ASWAJA) yang menjadi penguat spirit ke-Islaman Kader PMII, Dengan berlandaskan pada Al-Qur’an, Al-Hadist, Ijma dan Qiyas, yang dijabarkan ke dalam aspek Aqidah, Syariah dan tasawuf dengan mengacu pada 4 Mazhab; Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi, ASWAJA telah menjadi Manhaj bagi kader PMII dalam memahami situasi di internal, mendekatkan pandangan ASWAJA dalam konteks kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara. 

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang dimaknai sebagai landasan teologis, etika dan motivasi bagi cara dan proses berfikir, bersikap dan berprilaku warga PMII, ini sekaligus menjadi identitas PMII dalam menegaskan pandangan terhadap diri dan lingkungannya dalam rentang sejarah untuk meneguhkan eksistensi organisasi. Dengan rumusan mencakup beberapa hal; Tauhid, Hubungan Manusia dengan Tuhan, Hubungan Manusia dengan Manusia dan Hubungan Manusia dengan Lingkungannya, NDP menegaskan tentang penguatan nilai tradisi dan budaya serta Ilmu Pengetahuan dan teknologi—sebagai rangkaian dari pemanfaatan potensi diri terhadap anugrah Allah SWT dan penguatan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang  tetap dibingkai oleh ke-Imanan kepada Allah SWT.

Paradigma PMII, Istilah yang “dipopulerkan” di era 90-an dengan menitik beratkan pada cara pandang warga pergerakan terhadap realitas disekitarnya. Dengan paradigma warga PMII memiliki cara baca terhadap situasi pada level internasional, pergeseran dilevel Negara ataupun kecenderungan di level lokal. Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran, Paradigma Kritis Transformatif dan Paradigma Menggiring Arus telah membentuk cara berfikir dan bergerak PMII dalam memahami medan tempurnya.

Ketiga hal ini ternyata mengalami hambatan dalam konteks Ideologisasi”, sehingga muncul kader yang tidak memiliki kesepahaman, lemah dalam epistemologi kekuasaan, mengalami kemiskinan wacana, gagasan dan orientasi—problem ini menjadi penting untuk direfleksikan kembali dalam kerangka membangun kesamaan pengetahuan di semua level PMII termasuk Alumni PMII, sehingga gagasan yang ada di PMII menjadi habitus untuk kolektifitas.

Kedua; Problem Eksternal

Dalam konteks eksternal, warga PMII merupakan komunitas dengan sosio-kultur yang berbeda, Tipologi Kampus yang beragam dan Karakter Penguasa lokal yang juga berbeda. Perbedaan ini menjadi salah satu faktor Interpretasi yang berbeda—dalam memahami PMII. Pola konsumsi wacana yang beragam di beberapa lokus (Marxisme, Kapitalisme, Teologi Pembebasan dll) — Ideologi ini telah membentuk cara pandang dan cara berfikir dalam menentukan 3) Medan Pertarungan–ruang dimana gagasan dimaterialisasi.

Pada titik ini menegaskan orientasi ber-PMII menjadi sangat berharga karena situasi eksternal PMII diperhadapkan dengan beberapa hal; Pergeseran dilevel Internasional (Globalisasi), Dinamika Politik Nasional, Ketidak percayaan diri berhadapan dengan kondisi sosial yang mengedepankan kebanggaan visual, berubahnya citra perlawanan menjadi trend dan munculnya karakter hedonisme, pragmatisme dan atau lahirnya nalar transaksional. Ini menjadi tantangan eksternal PMII dalam membangun kesamaan gerak.

Ketiga; Kaderisasi  

Kaderisasi adalah ujung tombak untuk melakukan proses internalisasi ideologi PMII kedalam diri Kader. Kaderisasi yang menekankan pada; Penguatan Wacana dan Pengetahuan, Penguatan Basic Skill atau kompetensi dan Penegasan orientasi—merupakan konsep yang sistematis meskipun dalam hal kurikulum ada beberapa poin yang mesti didiskusikan kembali dan mensinergikannya dengan kondisi kekinian. Misalnya; Indikator ideologisasi dalam setiap jenjang Kaderisasi (MAPABA, PKD, PKL dan PKN).

Pada sisi lain kaderisasi juga memiliki peran dalam membentuk citra diri kader PMII; Insan Kamil, termasuk menjadikan kecerdasan akademik kader (Prestasi Komulatif) sebagai bangunan citra PMII diruang distribusi.  Karena PMII terlalu banyak memproduksi kader-kader diruang politik, sementara banyak ruang-ruang kosong yang belum diisi oleh PMII (Ruang Profesional, Penguasa ekonomi, Teknologi dll). Sebagai basis produksi dan penataan Distribusi kader—peran-peran kaderisasi pun tidak akan berjalan sistematis tanpa komitmen dari semua warga pergerakan dan kesamaan pemahaman kader PMII dan Alumni, terlebih menegaskan Tujuan PMII yang terdiri dari enam poin penting: 1) Taqwa kepada Allah SWT, 2) Berbudi Luhur, 3) Berilmu, 4) Cakap, 5) Bertanggungjawab mengamalkan ilmunya dan 6) Komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Dari beberapa analisis di atas menegaskan pentingnya pemahaman tujuan dapat dimulai dengan beberapa hal:

Pertama; Jika kita semua kader PMII, memaknai bahwa “Titik patah” atau problem mendasar PMII dalam hal orientasi dan kesamaan gerakan adalah TUJUAN PMII, maka mulai hari ini semua kader harus konsisten dengan TUJUAN Organisasi. Karena tujuan inilah yang merefleksikan nilai-nilai sebagai pemandu gerakan PMII –merebut masa depan

Kedua; Eksistensi akan muncul karena kekuatan identitas, pernyataan ini menegaskan makna bahwa TUJUAN PMII adalah arah dari cita-cita pergerakan. Merefleksikan ASWAJA, NDP, Paradigma dan Sistem Kaderisasi adalah penting sebagai tanda bahwa PMII senantiasa “awas” dengan situasi eksternalnya—bergumul di ruang manapun bukan persoalan mendasar, yang paling penting adalah Peneguhan Cita-cita PMII.

Selamat Harlah PMII ke – 61

Modal Terbesar kita adalah Keyakinan, Jika anda Yakin – maka setengah dari masalah itu selesai. Tangan Terkepal dan Maju ke Muka, 

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith trariqh

 

Mission News Theme by Compete Themes.